Peran
e-Book sebagai Revolusi Digital Pengganti Buku Cetak bagi Mahasiswa
Tuntutan
untuk serba praktis di era globalisasi terus meningkat. Komunikasi adalah salah
satu cara yang dapat menghubungkan individu dengan segala informasi melalui
kemajuan TI di era globalisasi ini. Banyak negara yang telah memanfaatkan
kemajuan TI dan mulai berlomba-lomba menciptakan inovasi baru melalui teknologi
lalu memamerkannya pada pasar global. Namun, sungguh disayangkan bahwa masih banyak
anak bangsa yang tidak sadar akan pentingnya memanfaatkan kemajuan teknologi
dan informasi. Sebagai contoh masyarakat lebih memilih memanfaatkan kemajuan TI
dengan menggunakan berbagai sosial media. Padahal TI tidak hanya digunakan
sebagai sosial media tetapi juga dapat digunakan sebagai media untuk memperoleh
wawasan yang lebih luas.
Selain
itu kini sistem pendidikan di Indonesia telah mulai berbasis pada perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi maka diharapkan pelajar dan mahasiswa di negeri
kita dapat bersaing dan mengejar ketertinggalan dari berbagai aspek. Tidak
hanya guru yang dituntut untuk sadar teknologi namun berbagai kalangan termasuk
pelajar dan mahasiswa. Mereka sekarang juga dituntut untuk lebih aktif dalam
pembelajaran. Salah satu upaya agar pelajar dan mahasiswa terus berkembang ilmu
dan pengetahuannya adalah mencari beberapa referensi dari berbagai sumber yang
ada termasuk buku dan literatur.
Permasalahan saat ini yaitu jika berbicara mengenai minat baca
adalah salah satu hal yang menarik untuk dibincangkan. Semakin tinggi angka
minat baca suatu penduduk negara juga akan mempengaruhi kualitas bangsa itu
sendiri. Dikutip dari gobekasi.pojoksatu.id, Survey Unesco mengatakan bahwa
minat baca masyarakat Indonesia hanya mencapai 0,001%, yang artinya bahwa hanya
ada satu dari 1000 orang yang mempunyai minat membaca. Padahal, banyak ilmu
yang didapatkan dari membaca. Membaca adalah salah satu hal yang mempunyai
banyak manfaat seperti merangsang otak, menambah kosakata, menambah kemampuan daya
ingat dan masih banyak lagi yang lainnya. Akhir-akhir ini seperti dilansir dari
Viva.co.id minat baca masyarakat sangat rendah. Disisi lain, kemajuan di bidang
digitalisasi sangat meningkat. Diharapkan dari kemajuan digitalisasi tersebut,
banyak inovasi-inovasi tercipta untuk bisa meningkatkan minat baca masyarakat.
Tak jauh-jauh, kita bisa melihat contoh kecilnya dari lingkungan
sekitar. Seperti yang dilansir dari kompas.com yang ditulis oleh Amanda
Setiorini, seorang dosen Manajemen di fakultas Ekonomi Universitas
Krisnadwipayana yang mengeluhkan tentang mahasiswanya yang mempunyai kebiasaan
malas membaca. Hal itu disebabkan oleh beberapa buku teks yang tebal-tebal dan
berbahasa asing bukanlah hal yang mudah, apalagi bisa dinikmati. Hal itu masih saja menjadi suatu masalah walaupan telah diberikan
sadurannya, mereka masih tetap enggan membaca. Hal
itu tidak terlepas dari peran orangtua di rumah. Sewaktu kecil, banyak orangtua yang menginginkan anaknya senang membaca, padahal
kalau orangtua tidak biasa membaca dalam kehidupan sehari-hari, janganlah
berharap anak-anaknya akan senang membaca.
Bagi mahasiswa, buku merupakan hal yang sangat penting. Selain
sebagai sumber referensi untuk menggali ilmu pengetahuan buku juga menjadi
acuan bagi mahasiswa sebagai paduan dalam belajar. Peran buku dalam proses
pembelajaran sangat penting, apalagi peran buku ilmiah untuk mengembangkan ideologi
mahasiswa. Namun sekarang, banyak mahasiswa mengeluhkan mahalnya buku. Seperti
yang dilansir dari website UIN Jakarta mengatakan bahwa mahalnya buku memang
dikakeranakan dasar pendidikan sendiri yang dasarnya mahal. Website tersebut
juga mengatakan alasan kenapa buku-buku saat ini terbilang cukup mahal dikarenakan
semakin naiknya biaya produksi buku di Indonesia, baik dari segi biaya
pembuatan kertas maupun biaya percetakannya. Di samping itu, karena buku itu diterbitkan
oleh penerbit, otomatis mereka juga ingin mencari untung dari buku tersebut
untuk menjalankan roda bisnisnya. Tak hanya itu, mereka juga mengatakan bahwa
sangat disayangkan atas mahalnya buku saat ini, mahasiswa yang seharusnya
mempunyai lima buku tetapi hanya sanggup memiliki dua buku.
Maraknya
pelanggaran hak cipta buku di Indonesia juga merupakan masalah yang tak ada
hentinya. Lagi-lagi tuntutan ekonomi dan kurangnya rasa menghargai atas karya
orang lain menjadi penyebab maraknya pelanggaran hak cipta. Padahal buku
merupakan salah satu karya yang dilindungi hak ciptanya, perbanyakan atau
penggandaan buku telah diatur dalam UU Nomor 28 Tahun 2014 pasal 58 yang berisi "hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak
untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu
dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku" (pasal 1 butir 1). Mirisnya ketidak
pedulian masyarakat terhadap hukum yang berlaku menyebabkan UU tentang hak
cipta tersebut hanya menjadi pajangan semata.
Salah satu masalah lain yaitu tentang penggunaan kertas secara
berlebihan. Sepeti dilansir dari www.suarasurabaya.net
mengatakan bahwa saat ini kebutuhan kertas nasional sendiri diketahui sekitar
5,6 juta ton per tahun. Untuk membuatnya diperlukan bahan baku kayu dalam
jumlah besar dan mahal. Bukankah hal
tersebut sudah termasuk dalam pemborosan, ditambah lagi dengan masalah
penebangan liar yang kerap terjadi. Dalam website tersebut juga dijelaskan
bahwa untuk memproduksi 1 rim kertas diperlukan 1 batang pohon usia sekitar 5
tahun, dan untuk menghasilkan 2 pak tisu berisi 40 lembar membutuhkan 1 batang
pohon berumur 6 tahun. Padahal 1 batang pohon itu bisa menghidupkan sekitar 3
jiwa. Selain itu, limbah yang dihasilkan dari proses produksi kertas dan tisu
juga sangat besar. Baik secara kuantitatif dalam bentuk cair, gas dan padat
maupun secara kualitatif. Penggunaan kertas sebagai bahan penunjang belajar
seperti buku memang sangat penting perannya. Ditambah keberadaan dari buku itu
sendiri yang sangat dibutuhkan banyak orang. Yang jadi permasalahannya adalah
apabila permintaan akan buku cetak setiap tahunnya bertambah, bagaimana dengan
permintaan kertas yang ikut bertambah juga.
Dari permasalahan tersebut kita bisa menyimpulkan, sejalan dengan
perkembangan ilmu digital, kesadaran akan teknologi informasi perlu diterapkan.
Jika kita sadari sekian banyak permasalahan tersebut e-book adalah
solusinya. E-book memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan buku.
Pertama, gratis (lebih murah) tentunya hal ini adalah keunggulan utama
dibandingkan dengan buku. Walaupun kini
bisa dibilang cukup banyak buku yang terbilang murah namun kita sadari
ataupun tidak, buku murah itu telah melanggar hak cipta. Dibandingkan harus
melanggar perundang-undangan mengenai hak cipta buku, akan lebih baik dan lebih
mudah menggunakan e-book. Kedua, menghemat waktu. Tentu kita tidak perlu
repot-repot untuk pergi ke toko buku. Ketiga, ramah lingkungan. File buku
digital tidak memerlukan kertas yang notabene diolah dari pohon sebagai bahan
bakunya. Keempat, hemat waktu. Dengan mengetik keyword saja kita sudah bisa
mencari dan mendapatkan buku yang kita inginkan. Hanya butuh gadget dan
paket internet saja kita sudah bisa mengunduh atau hanya sekedar membaca online.
Kelima yaitu mudah digandakan, jadi kita tidak harus ketakutan jika kehabisan
buku yang sedang kita cari. E-book hadir dengan bentuk soft file yang
mudah diunduh dan digandakan. Keenam yaitu penyedia lapangan bagi freelancer,
Freelancer
saat ini sangat diminati oleh masyarakat Indonesia. Seperti yang kita ketahui, freelancer
adalah (pekerja lapas) seorang pekerja bebas yang mengerjakan suatu proyek atau
pekerjaan seorang diri baik berhubungan langsung dengan klien maupun tidak
langsung. Adapun keuntungan dari pekerja lapas lebih besar dari pekerja tetap
karena biasanya perhitungannya berdasarkan per-jam, per-hari, per-halaman atau
per-proyek. Tentunya semakin
professional seorang freelancer akan semakin tinggi bayarannya. Lalu seoarang
freelance juga bebas bekerja dimana saja, tergantung jenis pekerjaannya.
Seperti content writer atau penerjemah. Adanya peluang freelancer sangat
membantu bagi pekerja atau mahasiswa untuk menambah penghasilan sampingan, dan
juga dapat membantu ibu rumah tangga atau seseorang yang lebih banyak mempunyai
waktu luang untuk mengisi waktu dan menambah penghasilan dengan memanfaatkan
teknologi sebagai media menulis, menerjemahkan suatu buku yang sangat
bermanfaat.
Begitu
juga dengan contoh kasus yang pertama yaitu minat baca rendah. Peran
digitalisasi seperti kehadiran E-book sangat penting. Dibutuhkan
inovasi-inovasi baru contohnya saja dalam hal membaca bagi mahasiswa. Dengan
sistem electronic reading ini diharapakan bisa meningkatkan minat baca
bagi para mahasiswa. Selain itu e-book akan lebih praktis dengan hanya
menggunakan gadged tanpa harus membawa buku cetak tebal. Hal ini bertujuan
untuk mendukung dari belajar dan pembalajaran bagi mahsaiswa. Seperti yang
dilansir dari Viva.co.id yang mengatakan bahawa membaca dengan menggunakan buku
digital (e-book) merupakan salah satu tren remaja saat ini. Transformasi dari
buku cetak menjadi buku digital yang disuguhkan lewat internet memang
memudahkan seseorang untuk mencari informasi. Seperti yang diungkapkan Carlos karo
karo selaku Diviaion Head of Commerce Indosat Ooredoo kepada VIVA.co.id tersebut, dia mengatakan bahwa Hadirnya aplikasi ini
untuk meningkatkan minat baca di kalanganmasyarakat dalammembangun ekonomi
digital di Indonesia danmembuka jendela informasi dengan membaca.
Dalam kenyataannya mahasiswa sebagai agent of change mereka seharusnya bisa menyesuaikan diri mereka dengan
sadar akan teknologi. E-book hadir sebagai
sebuah revolusi digital pengganti buku cetak memang harus disikapi dengan baik oleh
mahasiswa. E-book hadir dengan segala kemudahan yang ditawarkan untuk mempermudah
akses belajar rmelalui media elektronik yang relatif lebihkecil, mudah dibawa,
mudah diproses dan lebih interaktif. Diharapkan keacuhan dan sikap apatisme akan
adanya pesawat teknologi semakin menurun. Mahasiswa dituntut untuk bisa lebih memanfaatkan
kemajuan teknologi ini, sebuah tuntutan untuk berpikir kritis. Diharapkan dari adanya
sosialisasi dan penerapan e-book ini kita bisa lebih memanfaatkan penggunaan e-book
ini dengan maksimal sebagai sarana yang memberikan pengembangan ilmu pengetahuan.
Kita juga bisa berpartisipasi dalam proses pembuatan e-book atau literatur yang
bermanfaat bagi orang lain dan diharapkan juga bisa mengurangi tingkat pembajakan
buku yang kerap terjadi akhir-akhir ini.
“Cerdaskan pemuda bangsa. Mahasiswa Bisa”
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar