Kamis, 29 September 2016

“GET SCHOLARSHIP TO STUDY IN UNIVERSITY”


 
Lutvia Sari
Mahasiswa Pendidikan Tata Niaga, Fakultas Ekonomi

Berawal dari sebuah mimpi yang kutulis dan kupajang di dinding kamarku aku yakin akan kugapai mimpiku, “Get scholarship to study in University”, begitu tulisannya. Satu dari delapan mimpi besarku begitu juga satu dari seratus mimpi yang kutulis di buku mimpiku. Seorang siswa dari sekolah swasta yang punya mimpi kuliah di universitas negeri memang sebuah khayalan. “Kamu, anak dari seorang pedagang ingin kuliah? Mimpi saja”, begitulah kicauan mereka, ya mereka yang tak punya mimpi. Dengan motivasi tinggi kuberanikan diriku melangkah naik, naik satu tangga. Memang sering kubiasakan mengartikan hidupku seperti seseorang yang sedang menaiki tangga bukan tentang sungai yang mengalir. Dengan keyakinan bahwa kita ini sama, dia makan nasi aku juga makan nasi terus apa perbedaannya. Kalo yang lain bisa kenapa aku tidak. From I can’t to I can from imposible to I’m possible.
Kegagalan demi kegagalan aku lewati, dari kecerobohan pihak sekolah yang tidak memasukkan nilai siswanya ke pangkalan data sekolah dan siswa dimana berarti semua siswa terancam tidak lolos jalur undangan memang sudah bisa ditebak. Saat itu aku mulai putus asa dan risau akan masa depanku. Kucoba mengikuti tes lain yaitu ujian saringan masuk sekolah kedinasan dan juga jalur undangan masuk politeknik negeri, tapi usahaku gagal. Gagal bukan berarti sia-sia. Gagal bukan berarti kalah. Gagal bukan berarti kamu harus berhenti. Memang dalam KBBI gagal artinya tidak berhasil tapi menurut kamusku gagal artinya belum berhasil. Intinya kamu harus habiskan jatah kegagalanmu sampai kamu berhasil. Jika ada kata “Tidak” yang menyertai perjuanganmu, teruslah berjuang, mereka salah menilaimu, kamu adalah baja, kamu tidak akan runtuh hanya di gempur dengan penolakan, kamu tidak bisa dipadamkan, kamu adalah kobaran api yang abadi, selalu yakin dan terus menatap mimpimu seraya berkata :Aku Bisa!”, Kamu Akan Menang!
Dua hari sebelum penutupan pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri kuberanikan diriku untuk mendaftar. Tak lupa ku masukkan UM sebagai pilihan pertamaku, dengan modal nekad, keberanian, dan sisa-sisa ilmu yang masih melekat. Jalur Bidikmisi S1 Ekonomi Pembangunan dan S1 Pendidikan Tata Niaga UM menjadi pilihan pertama dan keduaku. Sebelum tes, kuisi hari-hariku dengan belajar. Zenius, Buku Soal-soal SBMPTN tahun lalu, dan materi-materi yang ku download dari internet adalah teman setiaku. Mulai dari meringkas materi, memahami konsep, dan sesekali menghafal adalah metode belajarku mengingat dimana tinggal dua minggu lagi tes akan dilaksanakan. Kubuat banyak kata motivasi belajar di dinding berharap aku bisa terpengaruh ketika aku malas belajar. Tak lupa secangkir kopi hitam buatan ibu dan drama korea yang sesekali kuputar untuk menghilangkan rasa bosanku.
Hari itu, H-1 pelaksanaan tes SBMPTN secara serentak akan dilaksanakan. Aku dan dua temanku segera pergi ke terminal untuk langsung on the way ke Malang. Tak lupa kuminta restu kedua orangtuaku. Jika digambarkan saat itu kami begitu semangat dan sesekali kumainkan salah satu lagu dari ponselku, “come out...come out...come out... won’t you turn my soul into a raging fire...”, begitu penggalan liriknya. Saat itu sudah sangat larut ketika kami sampai di Malang, setelah survey lokasi kami pun kebingungan mencari tempat penginapan. Untungnya masih ada orang yang berbaik hati menawarkan penginapan gratis kepada kami. Kami habiskan malam itu untuk belajar bersama.
Tes dimulai, seperti biasanya ku kerjakan soal yang aku bisa. Hingga waktu berakhir kira-kira hanya sekitar tujuh puluh soal yang kukerjakan dan kuserahkan semuanya kepada Tuhan, aku percaya hasil tidak akan mengkhianati proses, kata-kata basi memang. Wish me luck. Masa-masa penantian adalah masa-masa paling kurang menyenangkan. Digantung, penuh keabu-abuan antara harapan dan kegagalan. Akhirnya hari itu, 28 Juni 2016 aku dinyatakan lolos seleksi. Pilihan kedua. Betapa senangnya aku saat itu mengetahui  akhirnya aku akan jadi mahasiswa. Banyak ucapan selamat dari temanku. Finally “Get Scholarship to study in University” is getting real. Untuk menang mungkin kalian harus memenangkan pertandingan lebih dari sekali untuk bisa disebut sebagai pemenang. Orang berhasil bukan hanya mereka yang mempunyai kemampuan tetapi mereka yang mempunyai keinginan. You can do whatever you want, start with dream and make it happen.
Registrasi adalah salah satu langkah yang harus dilalui setelah kita dinyatakan lolos. Hari itu, dimana hari yang menyenangkan bisa bertemu para mahasiswa seperjuangan. Kita mengantre panjang. Antrean tak berujung biasanya kusebut. Terlihat raut-raut muka bahagia dan semangat dari mereka, mereka calon-calon temanku. Raut penuh cemas juga dengan harapan agar registrasi berjalan lancar. Tiba akhirnya aku masuk. Setelah mengisi beberapa form aku mengantre agar validasi keuangan ku bisa diberi tanda lunas bukti bahwa aku sudah dibayarkan. Tibalah giliranku, kuserahkan kertas putih validasi itu ke panitia. Selang beberapa detik dengan harap-harap cemas. “Mbak Lutvia Sari, Lutvia Sari? Ya mbak tidak lolos bidikmisi sekarang bayar tiga juta lima ratus dulu ya ke bank”, itulah kata-kata mbak panitia dengan raut muka sedikit datar. Mungkin kalian, ya kalian yang lagi baca ini bisa ngerasain kan gimana rasanya ditolak mentah-mentah, ngerasain betapa sedihnya. Tiga juta lima ratus loh, itu beneran UKT? UKT buat anak yang tidak lolos bidikmisi?. Keberatan.
Salah satu panitia menyarankanku ke gedung o8 untuk konsultasi UKT. Konsultasi dengan harapan agar UKT ku dibebaskan atau minimal ada penurunan golongan UKT. Semua sia-sia, walaupun aku mohon, nangis, gulung-gulung pun kayaknya tidak akan turun juga UKT nya. Wakil Dekan 2 menyarankanku untuk mencicil dengan maksud agar dengan mencicil tersebut aku bisa melanjutkan proses registrasi, tapi apalah aku hanya membawa sedikit uang saat itu. Banyak dari mereka yang mempunyai kisah sama sepertiku. Erika, salah satu calon mahasiswa tidak lolos bidikmisi yang kutemui. Kami sangat menyayangkan akan mahalnya UKT tahun ini. Dengan penuh pertimbangan akhirnya kami mencicil UKT dengan uang seadanya. Kami percaya ada hikmah dibalik semua cerita pahit ini. Kami bersepakat untuk tetap melanjutkan kuliah walaupun tanpa bantuan bidikmisi.
Masalah seakan bertubi-tubi setelah aku dinyatakan tidak lolos bidikmisi, lima hari sebelum perkuliahan dimulai aku mengalami kecelakaan, aku mengalami luka sedang di bagian wajah. Mau tidak mau orangtua ku harus mengeluarkan biaya untuk pengobatanku. Masalah-masalah ini seakan menandakan kepadaku untuk berhenti kuliah saja dan mulai bekerja. Membayangkan kedua orangtuaku yang kesusahan mencari uang hanya untuk kebutuhanku memang tidak mudah. Banyak sekali tantangan dan godaan menghampiri. Tapi percayalah Tuhan hanya akan memberikan masalah bagi orang-orang yang sanggup mengatasinya. SURVIVE. Hidup terlalu indah jika dibuat bersedih. MOVE ON. Pilihan saat itu hanya dua bangkit dari keterpurukan atau tetap sedih dan meratapi keadaan. You are determine your future.
Kabar baik ahirnya datang. Empat hari setelah masuk perkuliahan tepatnya ospek fakultas ada sambutan dari Wakil Dekan 2 yang menyampaikan bahwa akan ada penambahan kuota bidikmisi untuk mahasiswa baru. Antara senang dan haru bercampur. Dan selang beberapa hari berita ini menjadi berita yang begitu mengejutkan. Saat ku konfirmasi ke gedung A3 untuk memastikan apakah berita ini benar, mereka mengiyakan. Dan beberapa hari  kemudian berita ini pun lenyap dan meluap lagi ketika ada pemberitahuan pengumuman bidikmisi di website akun bidikmisi milik kita masing-masing. “Alhamdulillah ya Allah Kau telah menjawab doa-doa kami selama ini”, syukur ku dalam hati. Dari sini saya bisa menyimpulkan, bangkit adalah salah satu cara terbaik untuk menghindari keterpurukan. Yakinlah kesedihan yang lalu akan menjadi suatu kebahagiaan kita saat ini. Jangan mudah menyerah akan keadaan. Jangan biarkan orang lain memberhentikan langkahmu. Buktikan bahwa kamu bisa. Kamu bisa melakukan semua yang kamu mau. Jangan takut untuk bermimpi. Untuk merasakan kesuksesan, sebelum itu kita harus merasakan kepedihan dan keterpurukan, justru di saat itulah jangan pernah menyerah untuk maju. AND FINALLY “GET SCHOLARSHP TO STUDY IN UNIVERSITY” BECOMES TRUE. NOTHING IMPOSSIBLE. THANKS ALLAH.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar