Lutvia Sari
Mahasiswa
Pendidikan Tata Niaga, Fakultas Ekonomi
Berawal dari sebuah mimpi yang kutulis dan kupajang di dinding kamarku aku
yakin akan kugapai mimpiku, “Get scholarship to study in University”,
begitu tulisannya. Satu dari delapan mimpi besarku begitu juga satu dari
seratus mimpi yang kutulis di buku mimpiku. Seorang siswa dari sekolah swasta
yang punya mimpi kuliah di universitas negeri memang sebuah khayalan. “Kamu,
anak dari seorang pedagang ingin kuliah? Mimpi saja”, begitulah kicauan mereka,
ya mereka yang tak punya mimpi. Dengan motivasi tinggi kuberanikan diriku
melangkah naik, naik satu tangga. Memang sering kubiasakan mengartikan hidupku
seperti seseorang yang sedang menaiki tangga bukan tentang sungai yang mengalir.
Dengan keyakinan bahwa kita ini sama, dia makan nasi aku juga makan nasi terus
apa perbedaannya. Kalo yang lain bisa kenapa aku tidak. From I can’t to I
can from imposible to I’m possible.
Kegagalan demi kegagalan aku lewati, dari kecerobohan pihak sekolah yang
tidak memasukkan nilai siswanya ke pangkalan data sekolah dan siswa dimana
berarti semua siswa terancam tidak lolos jalur undangan memang sudah bisa
ditebak. Saat itu aku mulai putus asa dan risau akan masa depanku. Kucoba
mengikuti tes lain yaitu ujian saringan masuk sekolah kedinasan dan juga jalur
undangan masuk politeknik negeri, tapi usahaku gagal. Gagal bukan berarti
sia-sia. Gagal bukan berarti kalah. Gagal bukan berarti kamu harus berhenti. Memang
dalam KBBI gagal artinya tidak berhasil tapi menurut kamusku gagal artinya
belum berhasil. Intinya kamu harus habiskan jatah kegagalanmu sampai kamu
berhasil. Jika ada kata “Tidak” yang menyertai perjuanganmu, teruslah berjuang,
mereka salah menilaimu, kamu adalah baja, kamu tidak akan runtuh hanya di
gempur dengan penolakan, kamu tidak bisa dipadamkan, kamu adalah kobaran api
yang abadi, selalu yakin dan terus menatap mimpimu seraya berkata :Aku Bisa!”,
Kamu Akan Menang!
Dua hari sebelum penutupan pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan
Tinggi Negeri kuberanikan diriku untuk mendaftar. Tak lupa ku masukkan UM
sebagai pilihan pertamaku, dengan modal nekad, keberanian, dan sisa-sisa ilmu
yang masih melekat. Jalur Bidikmisi S1 Ekonomi Pembangunan dan S1 Pendidikan
Tata Niaga UM menjadi pilihan pertama dan keduaku. Sebelum tes, kuisi
hari-hariku dengan belajar. Zenius, Buku Soal-soal SBMPTN tahun lalu, dan materi-materi
yang ku download dari internet adalah teman setiaku. Mulai dari
meringkas materi, memahami konsep, dan sesekali menghafal adalah metode
belajarku mengingat dimana tinggal dua minggu lagi tes akan dilaksanakan.
Kubuat banyak kata motivasi belajar di dinding berharap aku bisa terpengaruh
ketika aku malas belajar. Tak lupa secangkir kopi hitam buatan ibu dan drama
korea yang sesekali kuputar untuk menghilangkan rasa bosanku.
Hari itu, H-1 pelaksanaan tes SBMPTN secara serentak akan dilaksanakan. Aku
dan dua temanku segera pergi ke terminal untuk langsung on the way ke
Malang. Tak lupa kuminta restu kedua orangtuaku. Jika digambarkan saat itu kami
begitu semangat dan sesekali kumainkan salah satu lagu dari ponselku, “come out...come
out...come out... won’t you turn my soul into a raging fire...”, begitu
penggalan liriknya. Saat itu sudah sangat larut ketika kami sampai di Malang,
setelah survey lokasi kami pun kebingungan mencari tempat penginapan. Untungnya
masih ada orang yang berbaik hati menawarkan penginapan gratis kepada kami.
Kami habiskan malam itu untuk belajar bersama.
Tes dimulai, seperti biasanya ku kerjakan soal yang aku bisa. Hingga waktu
berakhir kira-kira hanya sekitar tujuh puluh soal yang kukerjakan dan
kuserahkan semuanya kepada Tuhan, aku percaya hasil tidak akan mengkhianati
proses, kata-kata basi memang. Wish me luck. Masa-masa penantian adalah
masa-masa paling kurang menyenangkan. Digantung, penuh keabu-abuan antara
harapan dan kegagalan. Akhirnya hari itu, 28 Juni 2016 aku dinyatakan lolos
seleksi. Pilihan kedua. Betapa senangnya aku saat itu mengetahui akhirnya aku akan jadi mahasiswa. Banyak
ucapan selamat dari temanku. Finally “Get Scholarship to study in
University” is getting real. Untuk menang mungkin kalian harus memenangkan
pertandingan lebih dari sekali untuk bisa disebut sebagai pemenang. Orang berhasil bukan hanya mereka yang mempunyai kemampuan tetapi mereka
yang mempunyai keinginan. You can do whatever you want, start with dream and
make it happen.
Registrasi adalah salah satu langkah yang harus dilalui setelah kita
dinyatakan lolos. Hari itu, dimana hari yang menyenangkan bisa bertemu para
mahasiswa seperjuangan. Kita mengantre panjang. Antrean tak berujung biasanya
kusebut. Terlihat raut-raut muka bahagia dan semangat dari mereka, mereka
calon-calon temanku. Raut penuh cemas juga dengan harapan agar registrasi
berjalan lancar. Tiba akhirnya aku masuk. Setelah mengisi beberapa form aku
mengantre agar validasi keuangan ku bisa diberi tanda lunas bukti bahwa aku
sudah dibayarkan. Tibalah giliranku, kuserahkan kertas putih validasi itu ke
panitia. Selang beberapa detik dengan harap-harap cemas. “Mbak Lutvia Sari,
Lutvia Sari? Ya mbak tidak lolos bidikmisi sekarang bayar tiga juta lima ratus
dulu ya ke bank”, itulah kata-kata mbak panitia dengan raut muka sedikit datar.
Mungkin kalian, ya kalian yang lagi baca ini bisa ngerasain kan gimana rasanya
ditolak mentah-mentah, ngerasain betapa sedihnya. Tiga juta lima ratus loh, itu
beneran UKT? UKT buat anak yang tidak lolos bidikmisi?. Keberatan.
Salah satu panitia menyarankanku ke gedung o8 untuk konsultasi UKT.
Konsultasi dengan harapan agar UKT ku dibebaskan atau minimal ada penurunan
golongan UKT. Semua sia-sia, walaupun aku mohon, nangis, gulung-gulung pun
kayaknya tidak akan turun juga UKT nya. Wakil Dekan 2 menyarankanku untuk
mencicil dengan maksud agar dengan mencicil tersebut aku bisa melanjutkan
proses registrasi, tapi apalah aku hanya membawa sedikit uang saat itu. Banyak
dari mereka yang mempunyai kisah sama sepertiku. Erika, salah satu calon
mahasiswa tidak lolos bidikmisi yang kutemui. Kami sangat menyayangkan akan
mahalnya UKT tahun ini. Dengan penuh pertimbangan akhirnya kami mencicil UKT
dengan uang seadanya. Kami percaya ada hikmah dibalik semua cerita pahit ini.
Kami bersepakat untuk tetap melanjutkan kuliah walaupun tanpa bantuan
bidikmisi.
Masalah seakan bertubi-tubi setelah aku dinyatakan tidak lolos bidikmisi,
lima hari sebelum perkuliahan dimulai aku mengalami kecelakaan, aku mengalami
luka sedang di bagian wajah. Mau tidak mau orangtua ku harus mengeluarkan biaya
untuk pengobatanku. Masalah-masalah ini seakan menandakan kepadaku untuk
berhenti kuliah saja dan mulai bekerja. Membayangkan kedua orangtuaku yang
kesusahan mencari uang hanya untuk kebutuhanku memang tidak mudah. Banyak sekali
tantangan dan godaan menghampiri. Tapi percayalah Tuhan hanya akan memberikan
masalah bagi orang-orang yang sanggup mengatasinya. SURVIVE. Hidup
terlalu indah jika dibuat bersedih. MOVE ON. Pilihan saat itu hanya dua bangkit
dari keterpurukan atau tetap sedih dan meratapi keadaan. You are determine
your future.
Kabar baik ahirnya datang. Empat hari setelah masuk perkuliahan tepatnya
ospek fakultas ada sambutan dari Wakil Dekan 2 yang menyampaikan bahwa akan ada
penambahan kuota bidikmisi untuk mahasiswa baru. Antara senang dan haru
bercampur. Dan selang beberapa hari berita ini menjadi berita yang begitu
mengejutkan. Saat ku konfirmasi ke gedung A3 untuk memastikan apakah berita ini
benar, mereka mengiyakan. Dan beberapa hari
kemudian berita ini pun lenyap dan meluap lagi ketika ada pemberitahuan pengumuman
bidikmisi di website akun bidikmisi milik kita masing-masing. “Alhamdulillah ya
Allah Kau telah menjawab doa-doa kami selama ini”, syukur ku dalam hati. Dari
sini saya bisa menyimpulkan, bangkit adalah salah satu cara terbaik untuk
menghindari keterpurukan. Yakinlah kesedihan yang lalu akan menjadi suatu
kebahagiaan kita saat ini. Jangan mudah menyerah akan keadaan. Jangan biarkan
orang lain memberhentikan langkahmu. Buktikan bahwa kamu bisa. Kamu bisa
melakukan semua yang kamu mau. Jangan takut untuk bermimpi. Untuk merasakan
kesuksesan, sebelum itu kita harus merasakan kepedihan dan keterpurukan, justru
di saat itulah jangan pernah menyerah untuk maju. AND FINALLY “GET SCHOLARSHP
TO STUDY IN UNIVERSITY” BECOMES TRUE. NOTHING IMPOSSIBLE. THANKS ALLAH.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar